Jumat, 25 Mei 2018

Perekonomian Indonesia : Rangkuman SDA Kelompok 1


Rangkuman Pertanyaan dan Jawaban materi kelompok 1
    1. Mengapa sumber daya alam di Indonesia masih banyak di kuasai oleh pihak asing? dan mengapa  kontrol migas juga masih ditangani oleh segelintir korporasi asing hingga diatas 50%? (Pertanyaan dari Kelompok 3)
           Jawaban :
          Karena di Indonesia sendiri pun belum bisa mengelola sumber daya alamnya dengan baik sehingga butuh bantuan dari pihak asing untuk mengelolanya.dan menurut peraturan menteri pasal 3 pemerintah berhak mendapatkan komisi dari perusahaan asing. dan jika perusahaan asing ingin mebagikan komisinya harus melalui persetujuan menteri.Lalu kenapa pemerintah tidak mengeluarkan peraturan tentang korporasi asing untuk dibatasi 50% saja ? Karena Indonesia sendiri baru bisa mengelola sumber dayanya setengahnya belum mampu untuk mengelola seluruhnya , sehingga jika dibatasi maka akan terjadi penyianyiaan sumber daya alam.

      2. Contoh dari mengelola hutan dengan melibatkan masyarakat? (Pertanyaan dari Kelompok 5)

           Jawaban :
            
      Pemerintah mengajak masyarakat untuk berkonstribusi dalam mengelola hutan, karena  dengan mengelola hutan masyarakat juga bisa mendapat keuntungan. Contohnya,  mengajak  warga untuk bekerja sama dengan pemerintah dan hasil hutannya bisa dibagi dua.


      3. Bagaimana solusi apabila ada perusahaan ingin membangun proyek diatas lahan yang ditanami pohon langka? ( Pertanyaan dari Kelompok 6)

            Jawaban :
              
      Dengan memindahkan pohon langka tersebut atau proyek tidak jadi dibangun di lahan tersebut. Karena ada peraturan dari pemerintah untuk tidak membunuh hewan langka atau menebang tumbuhan langka. Tapi jika pohon langka tersebut hanya berjumlah satu atau dua pohon saja, mungkin bisa meminta izin kepada pemerintah untuk menebangnya.
          


       Rangkuman Pertanyaan dari Kelompok 1 dan Jawaban
        
      1. Bagaimana cara menghindari kebakaran hutan? (Pertanyaan untuk Kelompok 2)

             Jawaban :
               Ada beberapa cara untuk menghindari adanya kebakaran hutan, yaitu:
                  a.Mengawasi titik rawan kebakatan hutan.
                  b.Mempersiapakan pemadam kebakaran .
                  c.Memasang alarm kebakaran di pos- pos yang telah disediakan.
                  d.Selalu siap siaga.

      2. Apa solusi tentang pengelolaan sumber daya alam di Indonesia? 
      (Pertanyaan untuk Kelompok 3) 

             Jawaban :
               Dengan menghindari penebangan hutan sembarangan dan melakukan penanaman pohon kembali agar generasi berikutnya dapat menikmati kekayaan sumber daya alam yang Indonesia miliki.Kemudian kita harus sadar bahwa sumber daya alam itu sangat penting untuk kita.Contoh kecil dari menjaga sumber daya alam adalah dengan membuang sampah pada tempatnya.

      3. Mengapa Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah? 
      (Pertanyaan untuk Kelompok 4) 

            Jawaban :
               *Indonesia terletak di daerah tropis yang memiliki curah hujan tinggi yang membuat tumbuhan tumbuh dengan subur.
               *Memiliki banyak pegunungan yang kaya akan mineralnya.
               *Memiliki perairan yang luas yang kaya akan hewan laut.

      4. Seberapa jauhkah pemerintah dapat mengontrol sumber daya kelautan ? 
      (Pertanyaan untuk Kelompok 5) 

            Jawaban :
              Dengan pemeriksaan kapal perikanan untuk mengurangi pelanggaran nelayan asing.Jika ditemukan nelayan asing atau ilegal fishing dikenakan pasal 69 ayat (4) dalam undang - undang no.45 tahun 2009 tantang perikanan memiliki serangkaian payung hukum terkait penegakkan hukum terhadap tindakan ilegal fishing,salah satunya adalah dimungkinkannya dilakukan penenggelaman kapal yang terbukti melakukan penangkapan ikan tanpa izin.

      5. Bagaimana tanggapan tentang kebakaran hutan di Riau? 
      (Pertanyaan untuk Kelompok 6) 

             Jawaban :
               Rata - rata hutan yang sulit terbakar adalah hutan gambut karena memiliki kandungan tanah dan air yang banyak.kebakaran di Riau terjadi karena banyak perusahaan yang membuat irigasi secara ilegal di hutan gambut sehingga air yang ada di hutan tersebut menjadi kering dan mudah terbakar. Namun perusahaan - perusahaan yang membuat irigasi sudah di ketahui ada 7.

      Jumat, 29 Desember 2017

      PENGANTAR BISNIS: CSR dan BISNIS INTERNASIONAL

      CSR



      Konsep CSR
      • Bentuk komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi terhadap seluruh pemangku kepentingannya yang diantaranya adalah: konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan yang mencakup: ekonomi, sosial dan lingkungan.
      • Kontribusi perusahaan terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan dengan cara meminimalisirkan dampak negatif dan dampak positif terhadap seluruh pemangku kepentingannya.

      Sejarah CSR
      • Di kemukakan oleh Howard R.Bowen di tahun 1953
      • Mulai di adopsi tahun 1970an
      • Di populerkan oleh John Elkington via bukunya Cannibal Business tahun 1998
      • John Elkington menyebut 3P (profit, people, planet)
      Implementasi CSR
      • FILANTROPI (Sukarela)
      • Obligation (Kewajiban)
      Landasan Pokok CSR

      a.       Landasan pokok CSR dalam aktivitas ekonomi, meliputi:
      -         kinerja keuangan berjalan baik
      -         investasi modal berjalan sehat
      -         kepatuhan dalam pembayaran pajak
      -         tidak terdapat praktik suap/korupsi
      -         tidak ada konflik kepentingan
      -         tidak dalam keadaan mendukung rezim yang korup
      -         menghargai hak atas kemampuan intelektual/paten
      -         tidak melakukan sumbangan politis/ lobi
      b.      Landasan pokok CSR dalam isu lingkungan hidup, meliputi:
              tidak melakukan pencemaran
              tidak berkontribusi dalam perubahan iklim
              tidak berkontribusi atas limbah
              tidak melakukan pemborosan air
              tidak melakukan praktik pemborosan energi
              tidak melakukan penyerobotan lahan
              tidak berkontribusi dalam kebisingan
              menjaga keanekaragaman hayati
      c.       Landasan pokok CSR dalam isu sosial, meliputi:
              menjamin kesehatan karyawan atau masyarakat yang terkena dampak
              tidak mempekerjakan anak
              memberikan dampak positif terhadap masyarakat
              melakukan proteksi konsumen
              menjunjung keberanekaragaman
              menjaga privasi
              melakukan praktik derma sesuai dengan kebutuhan
              bertanggungjawab dalam proses outsourcing dan off-shoring
              akses untuk memperoleh barang-barang tertentu dengan harga wajar
      d.      Landasan pokok CSR dalam isu kesejahteraan
              memberikan kompensasi terhadap karyawan
              memanfaatkan subsidi dan kemudahan yang diberikan pemerintah
              menjaga kesehatan karyawan
              menjaga keamanan kondisi tempat kerja
              menjaga keselamatan dan Kesehatan Kerja
              menjaga keseimbangan kerja/hidup



      BISNIS INTERNASIONAL


      PENGERTIAN BISNIS INTERNASIONAL
             Bisnis internasional merupakan kegiatan bisnis yang dilakukan antara Negara yang satu dengan Negara yang lain.

      HAKIKAT BISNIS INTERNASIONAL
             Ada dua buah transaksi Bisnis Internasional yaitu:
      a. Perdagangan Internasional (International Trade)
      Dalam hal perdagangan internasional yang merupakan transaksi antar Negara itu biasanya dilakukan dengan cara tradisional yaitu dengan cara ekspor dan impor. Dengan adanya transaksi ekspor dan impor tersebut maka akan timbul “NERACA PERDAGANGAN ANTAR NEGARA” atau “BALANCE OF TRADE”. Suatu Negara dapat memiliki Surplus Neraca Perdagangan atau Devisit Neraca Perdagangannya. Neraca perdagangan yang surplus menunjukan keadaan dimana Negara tersebut memiliki nilai ekspor yang lebih besar dibandingkan dengan nilai impor yang dilakukan dari Negara partner dagangnya. 

      b. Pemasaran International (International Marketing)
      Pemasaran internasional yang sering disebut sebagai Bisnis Internasional (International Busines) merupakan keadaan dimana suatu perusahaan dapat terlibat dalam suatu transaksi bisnis dengan Negara lain, perusahaan lain ataupun masyarakat umum di luar negeri.
      Transaksi bisnis internasional semacam ini dapat ditempuh dengan berbagai cara antara lain :
      – Licencing
      – Franchising
      – Management Contracting
      – Marketing in Home Country by Host Country
      – Joint Venturing
      – Multinational Coporation (MNC)

      TAHAP-TAHAP DALAM MEMASUKI BISNIS INTERNASIONAL
             Adapun tahap tersebut secara kronologis adalah sebagai berikut :
      1. Ekspor Insidentil
      2. Ekspor Aktif
      3. Penjualan Lisensi
      4. Franchising
      5. Pemasaran di Luar Negeri
      6. Produksi dan Pemasaran di Luar Negeri

      HAMBATAN DALAM MEMASUKI BISNIS INTERNASIONAL
      1. Batasan Perdagangan dan Tarif Bea Masuk

      2. Perbedaan Bahasa, Sosial Budaya/Kultur
             Perbedaan dalam hal bahasa seringkali merupakan hambatan bagi kelancaran bisnis Internasional, hal ini disebabkan karena bahasa adalah merupakan alat komunikasi yang vital baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.

      3. Hambatan Politik, Hukum dan Perundang-Undangan
             Hubungan politik yang kurang baik antara satu negara dengan negara yang lain juga akan mengakibatkan terbatasnya hubungan bisnis dari kedua negara tersebut. Sebagai contoh yang ekstrim Amerika melakukan embargo terhadap komoditi perdagangan dengan negara-negara Komunis.
      Ketentuan Hukum ataupun Perundang-undang yang berlaku di suatu negara kadang juga membatasi berlangsungnya bisnis internasional. Misalnya negara-negara Arab melarang barang-barang mengandung daging maupun minyak babi.
      Lebih dan itu undang-undang di negaranya sendiri pun juga dapat membatasi berlangsungnya bisnis Internasional, misalnya Indonesia melarang ekspor kulit mentah ataupun setengah jadi, begitu pula rotan mentah dan setengah jadi dan sebagainya.
      4. Hambatan Operasional
            Hambatan perdagangan atau bisnis internasional yang lain adalah berupa masalah operasional yakni transportasi atau pengangkutan barang yang diperdagangkan tersebut dari negara yang satu ke negara yang lain. Transportasi ini seringkali sukar untuk dilakukan karena antara kedua negara itu belum memiliki jalur pelayaran kapal laut yang reguler. Hal ini akan dapat mengakibatkan bahwa biaya pengangkutan atau ekspedisi kapal laut untuk jalur tersebut akan menjadi sangat mahal.

      Sumber

      Rabu, 20 Desember 2017

      PENGANTAR BISNIS: Rasio Keuangan



      RASIO KEUANGAN

      Pengertian Rasio Keuangan
      Rasio keuangan menjelaskan suatu hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dalam suatu laporan keuangan.

      Macam-Macam Rasio Keuangan

      A. Rasio Likuiditas 
      Rasio likuiditas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan suatu perusahaan untuk melunasi semua kewajiban yang harus segera dipenuhi (hutang jangka pendeknya). Perusahaan yang mempunyai cukup kemampuan untuk membayar hutang jangka pendek disebut perusahaan yang likuid sedang bila tidak disebut ilikuid. Rasio likuiditas yang umum dipergunakan untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan antara lain: 

      1. Current Ratio 

      Rasio ini membandingkan aktiva lancar dengan hutang lancar. Current Ratio memberikan informasi tentang kemampuan aktiva lancar untuk menutup hutang lancar. Aktiva lancar meliputi kas, piutang dagang, efek, persediaan, dan aktiva lainnya. Sedangkan hutang lancar meliputi hutang dagang, hutang wesel, hutang bank, hutang gaji, dan hutang lainnya yang segera harus dibayar (Sutrisno, 2001:247). Rumus current ratio adalah: 
      Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar, semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Apabila rasio lancar 1:1 atau 100% berarti bahwa aktiva lancar dapat menutupi semua hutang lancar. Jadi dikatakan sehat jika rasionya berada di atas 1 atau diatas 100%. Artinya aktiva lancar harus jauh di atas jumlah hutang lancar (Harahap, 2002:301) 

      2. Quick Ratio 

      Quick ratio disebut juga acid test ratio, merupakan perimbangan antara jumlah aktiva lancar dikurangi persediaan, dengan jumlah hutang lancar. Persediaan tidak dimasukkan dalam perhitungan quick ratio karena persediaan merupakan komponen aktiva lancar yang paling kecil tingkat likuiditasnya. Quick ratio memfokuskan komponen-komponen aktiva lancar yang lebih likuid yaitu: kas, surat-surat berharga, dan piutang dihubungkan dengan hutang lancar atau hutang jangka pendek (Martono, 2003:56). Jadi rumusnya: 
      Jika terjadi perbedaan yang sangat besar antara quick ratio dengan current ratio, dimana current ratio meningkat sedangkan quick ratio menurun, berarti terjadi investasi yang besar pada persediaan. 

      Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi hutang lancar. Semakin besar rasio ini semakin baik. Angka rasio ini tidak harus 100% atau 1:1. Walaupun rasionya tidak mencapai 100% tapi mendekati 100% juga sudah dikatakan sehat (Harahap, 2002:302). 

      3. Cash Ratio 

      Rasio ini membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas dengan hutang lancar. Kas yang dimaksud adalah uang perusahaan yang disimpan di kantor dan di bank dalam bentuk rekening Koran. Sedangkan harta setara kas (near cash) adalah harta lancar yang dengan mudah dan cepat dapat diuangkan kembali, dapat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi Negara yang menjadi domisili perusahaan bersangkutan. Rumus untuk menghitung cash ratio adalah: 
      Rasio ini menunjukkan porsi jumlah kas + setara kas dibandingkan dengan total aktiva lancar. Semakin besar rasionya semakin baik. Sama seperti Quick Ratio, tidak harus mencapai 100% (Harahap, 2002:302). 
      B. Rasio Solvabilitas 
      Rasio solvabilitas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi segala kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dilikuidasi. Perusahaan yang mempunyai aktiva/kekayaan yang cukup untuk membayar semua hutang-hutangnya disebut perusahaan yang solvable, sedang yang tidak disebut insolvable. Perusahaan yang solvabel belum tentu ilikuid , demikian juga sebaliknya yang insolvable belum tentu ilikuid. Macam-macam rasio keuangan berkaitan dengan rasio solvabilitas yang biasa digunakan adalah: 

      1. Total Debt to Total Assets Ratio 

      Rasio yang biasa disebut dengan rasio hutang (debt ratio) ini mengukur prosentase besarnya dana yang berasal dari hutang. Hutang yang dimaksud adalah semua hutang yang dimiliki oleh perusahaan baik yang berjangka pendek maupun yang berjangka panjang. Kreditor lebih menyukai debt ratio yang rendah sebab tingkat keamanan dananya menjadi semakin baik (Sutrisno, 2001:249). Untuk mengukur besarnya rasio hutang ini digunakan rumus: 
      Rasio ini menunjukkan sejauh mana hutang dapat ditutupi oleh aktiva. Semakin kecil rasionya semakin aman (solvable). Porsi hutang terhadap aktiva harus lebih kecil (Harahap, 2002:304). 

      2. Debt to Equity Ratio 

      Rasio hutang dengan modal sendiri (debt to equity ratio) adalah imbangan antara hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit dibanding dengan hutangnya. Bagi perusahaan sebaiknya, besarnya hutang tidak boleh melebihi modal sendiri agar beban tetapnya tidak terlalu tinggi. Semakin kecil rasio ini semakin baik. Maksudnya, semakin kecil porsi hutang terhadap modal, semakin aman. Rumusnya: 

      C. Rasio Rentabilitas 
      Rasio rentabilitas atau profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam mendapatkan laba. Perhatian ditekankan pada rasio ini karena hal ini berkaitan erat dengan kelangsungan hidup perusahaan. Ada beberapa ukuran rasio rentabilitas yang dipakai, yakni: 

      1. Profit Margin 

      Rasio ini menghitung sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu. Rasio ini bisa dilihat langsung pada analisis common size untuk laporan rugi laba (baris paling akhir). Rasio ini bisa diintepretasikan juga sebagai kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya (ukuran efisiensi) di perusahaan pada periode tertentu (Hanafi dan Halim, 2000:84). Rasio profit margin bisa dihitung sebagai berikut: 

      Rasio ini menunjukkan berapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan. Semakin besar rasionya semakin baik, karena dianggap kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba cukup tinggi (Harahap, 2002:304). 

      2. Gross Profit Margin 

      Gross Profit Margin merupakan perbandingan antara laba kotor yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama. Rasio ini mencerminkan atau menggambarkan laba kotor yang dapat dicapai setiap rupiahpenjualan. Semakin besar rasionya berarti semakin baik kondisi keuangan perusahaan (Munawir, 2001:89). Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: 
      Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang akan menutupi biaya-biaya tetap atau biaya operasi lainnya. Dengan pengetahuan atas rasio ini dapat mengontrol pengeluaran untuk biaya tetap atau biaya operasi sehingga perusahaan dapat menikmati laba. Semakin besar rasionya semakin baik (Harahap, 2002:306). 

      3. Net Profit Margin 

      Net Profit Margin atau Margin Laba Bersih digunakan untuk mengukur rupiah laba bersih yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah penjualan dan mengukur seluruh efisien, baik produksi, administrasi, pemasaran, pendanaan, penentuan harga maupun manajemen pajak. Semakin tinggi rasionya menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu. 

      Tetapi jika rasionya rendah menunjukkan penjualan yang terlalu rendah untuk tingkat biaya tertentu, atau biaya yang terlalu tinggi untuk tingkat penjualan tertentu, atau kombinasi dari kedua hal tersebut (Prastowo dan Juliaty, 2003:91). Rasio ini dapat dihitung dengan rumus: 

      Rasio ini mengukur jumlah rupiah laba bersih yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah penjualan. Semakin tinggi rasionya semakin baik, karena menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan tertentu. 

      4. Return On Investment (ROI) 
       
      Return On Investment merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutup investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk mengukur rasio ini adalah laba bersih setelah pajak atau EAT (Sutrisno, 2001:255). Rasio ini dihitung dengan rumus: 
       
      Rasio ini mengukur jumlah rupiah laba bersih (setelah pajak) yang dihasilkan oleh setiap satu rupiah investasi yang dikeluarkan. Semakin besar rasionya semakin baik (Sutrisno, 2001:255). 

      5. Return On Assets 

      Rasio ini disebut juga rentabilitas ekonomis, merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam hal ini laba yang dihasilkan adalah laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT (Sutrisno, 2001:254).Rasio ini dihitung dengan rumus: 
      Rasio ini mengukur tingkat keuntungan (EBIT) dari aktiva yang digunakan. Semakin besar rasionya semakin baik (Sutrisno, 2001:254). 

      D. Rasio Aktivitas 
      Rasio ini melihat pada beberapa asset kemudian menentukan berapa tingkat aktivitas aktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam padaaktiva-aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif. Beberapa rasio aktivitas yang digunakan adalah: 

      1. Perputaran Piutang 

      Rasio ini mengukur berapa kali, secara rata-rata piutang yang dikumpulkan dalam satu tahun. Rasio ini mengukur kualitas piutang dan efisiensi perusahaan dalam pengumpulan piutang dan kebijakan kreditnya. Rasio ini biasanya digunakan dalam hubungan dengan analisis terhadap modal kerja, karena memberi ukuran seberapa cepat piutang perusahaan berputar menjadi kas. Angka jumlah hari piutang, menggambarkan lamanya suat u piutang bisa ditagih (jangka waktu pelunasan). Semakin lama jangka waktu pelunasannya,semakin besar pula resiko kemungkinan tidak tertagihnya piutang (Prastowo dan Juliaty, 2003:82). Rasio ini dapat dihitung dengan rumus:  
      Rasio ini mengukur efektivitas peng elolaan piutang. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif pengelolaan piutangnya (Sutrisno, 2001:252). 

      2. Perputaran Persediaan 

      Seperti halnya perputaran piutang, rasio ini juga menggambarkan likuiditas perusahaan, yaitu dengan cara mengukurefisiensi perusahaan dalam mengelola dan menjual persediaan yang dimiliki oleh perusahaan. 

      Perputaran persediaan yang tinggi menandakan semakin tingginya persediaan berputar dalam satu tahun. Hal ini menandakan efektivitas manajemen persediaaan. Sebaliknya, jika perputaran persediaan rendah menunjukkan pengendalian atas persediaan kurang efektif (Hanafi dan Halim, 2000:80). Rumus perhitungannya adalah:  
      Rasio ini mengukur efektivitas pengelolaan persediaan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif pengelolaan persediaanya (Sutrisno, 2001:251). 

      3. Perputaran Aktiva Tetap 

      Rasio ini mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memperlihatkan sejauh mana efektivitas perusahaan menggunakan aktiva tetapnya. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif proporsi aktiva tetap tersebut. Pada beberapa industri seperti industri yang mempunyai proporsi aktiva tetap yang tinggi, rasio ini cukup penting diperhatikan. Sedangkan pada beberapa industri yang lain seperti industri jasa yang mempunyai proporsi aktiva tetap yang kecil, rasio ini barangkali tidak begitu penting untuk diperhatikan (Hanafi dan Halim, 2000:81). Perputaran aktiva tetap dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:  
      Rasio ini mengukur efektivitas penggunaan aktiva tetap dalam mendapatkan penghasilan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif penggunaan aktiva tetapnya (Sutrisno, 2001:253). 

      4. Perputaran Total Aktiva 

      Rasio yang terakhir untuk komponen rasio aktivitas adalah rasio perputaran total aktiva. Sama seperti halnya rasio perputaran aktiva tetap, rasio ini menghitung efektivitas penggunaan total aktiva. Rasio yang tinggi biasanya menunjukkan manajemen yang baik, sebaliknya rasio yang rendah harus membuat manajemen mengevaluasi strategi, pemasarannya, dan pengeluaran investasi atau modalnya (Hanafi dan Halim, 2000:81). Rasio perputaran total aktiva menggunakan rumus:  
      Rasio ini merupakan ukuran efektivitas pemanfaatan aktiva dalam menghasilkan penjualan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif perusahaan memanfaatkan aktivanya (Sutrisno, 2001:253).


      sumber:
      http://tipsserbaserbi.blogspot.co.id/2016/03/macam-macam-rasio-keuangan-dan-rumusnya.html di akses (20/12/2017)

      Rangkuman Materi Aspek Hukum dalam Ekonomi

      ASPEK HUKUM DALAM EKONOMI MATERI - HUKUM DAN HUKUM EKONOMI Pengertian Hukum & Hukum Ekonomi Pengertian Hukum...